Sejarah Singkat Asosiasi Antropologi Indonesia

AAI didirikan oleh para Antropolog pendiri ilmu Antropologi di Indonesia, yakni Prof. Dr. Koentjaraningrat (the founding father) dari Universitas Indonesia, Prof Dr. Usman Pelly dari Universitas Sumatera Utara, Prof. Dr. Mattulada dari Universitas Hasanuddin Makassar, dan sejumlah tokoh Antropologi Indonesia lainnya seperti Prof. Dr. S. Budhisantoso, Prof. Dr. Meutia F. Swasono, Dr. Kartini Sjahrir, Dr. Rahardjo, Prof Dr. E. K. M. Masinambouw, Prof Dr. Sjafri Sairin, Prof. Dr. P.M. Laksono dan banyak tokoh Antropologi lainnya di Indonesia.

Asosiasi ini telah disemai tumbuhkan pada tanggal 12 Maret 1983. Sejalan dengan waktu, Asosiasi ini terus berusaha eksis di dalam mencapai kematangan organisasi yang telah berusia tiga dekade

koentjaraningrat

Pembukaan Dari Ketua

idham4

Menghadapi Tantangan dan Peluang Baru

Asosiasi Antropologi Indonesia (AAI) adalah organisasi pertama dan satu-satunya organisasi bersifat nasional dari para praktisi profesional yang bekerja di bidang “Manusia dan Kemanusiaan” di Indonesia.

Saat ini, kami telah terlibat dalam pembahasan Rancangan Undang-undang Kebudayaan yang berlangsung cukup lama serta proses standarisasi Konservasi Budaya, baik  warisan budaya benda maupun non-benda.

Meski demikian, masih banyak hal penting lagi yang ingin dilakukan. Kami mengupayakan pengarusutamaan (mainstreaming) budaya dalam pembangunan nasional karena kami meyakini bahwa budaya tidaklah hanya sebuah bagian kehidupan, akan tetapi juga sebuah dimensi kehidupan.

Untuk bisa berperan lebih aktif dalam proses pengarusutamaan (mainstreaming), kami mengorganisir program dan kegiatan untuk meningkatkan kemampuan profesional  dan posisi anggota AAI untuk bisa terlibat dengan para pembuat kebijakan serta memberdayakan masyarakat; dalam upaya yang strategis dan sesuai dengan apa yang kami sebut sebagai “Cara Antropologi” yang memanusiakan.

Pencapaian yang ingin kita raih membutuhkan proses yang panjang. Tapi, kami yakin untuk terus melangkah, tak cuma untuk kebaikan Antropologi di Indonesia, namun juga Indonesia yang lebih baik.

 

Idham Bachtiar Setiadi,
Ketua Umum

Misi Asosiasi Antropologi Indonesia

(1) Meningkatkan dan mengembangkan profesi Antropolog. (2) Melakukan advokasi kebijakan bidang sosial dan budaya. (3) Melakukan pemberdayaan masyarakat.

Visi Asosiasi Antropologi Indonesia

Menjadikan profesi Antropologi bermanfaat bagi penciptaan tatanan sosial dan budaya yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, kemajemukan, kesetaraan, persatuan, keadilan pada tingkat nasional dan internasional.

Pembagian Wilayah

Indonesia terdiri dari 17.508 pulau, beberapa diantaranya lebih besar dari negara-negara di Eropa, terbentang sepanjang 5.271 km dari Barat ke Timur garis ekuator. Indonesia sangat kaya dengan berbagai kelompok etnis dan budaya. Tantangan bagi para ahli Antropologi adalah mengeksplorasi kekayaan budaya dalam rangka memberikan sumbangan bagi pembangunan sosial.

Secara strategis, AAI membagi 4 wilayah kerja:

Wilayah 1

Wilayah I meliputi Sumatera dan pulau-pulau kecil di sekelilingnya. Untuk wilayah ini, fokus perhatian Antropologi adalah masalah-masalah ekologi yang berkaitan dengan perkebunan, pertambangan serta tentunya berbagai kelompok etnik dan keterikatan mereka pada hutan dan tanahnya. Pusat Kajian Antropologi di wilayah ini bisa ditemukan di beberapa propinsi, seperti Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat.

Wilayah 2

Wilayah II mencakup keseluruhan bagian pulau Kalimantan di bawah NKRI serta keseluruhan Sulawesi beserta pulau-pulau yang ada di sekitar kedua pulau besar tersebut. Di wilayah ini, fokus perhatian AAI terutama berkaitan dengan budaya maritim. Pusat Kajian di wilayah ini bisa ditemukan di Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Selatan.

Wilayah 4

Wilayah IV mencakup pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur beserta pulau-pulau kecil disekitarnya. Fokus perhatian AAI di wilayah ini adalah pada Budaya Pemerintahan yang mencakup pada pembuatan kebijakan beserta implementasinya dalam budaya yang sedang berkembang. Di wilayah ini pusat kajian Antropologi terdapat di Jawa Barat, Jawa Tengah, DKI Jakarta, Yogyakarta, Jawa Timur dan Bali.

Wilayah 3

Wilayah III mencakup kepulauan Maluku Utara, Maluku, Papua Barat dan Papua beserta pulau-pulau kecil disekitarnya. Kajian Antropologi pada wilayah ini berfokus pada kelompok etnik yang tersebar di seluruh wilayah. Pusat kajian di wilayah ini bisa ditemukan di Maluku Utara, Papua Barat dan Papua.

Pembagian Wilayah AAI

Wilayah 1

Wilayah I meliputi Sumatera dan pulau-pulau kecil di sekelilingnya. Untuk wilayah ini, fokus perhatian Antropologi adalah masalah-masalah ekologi yang berkaitan dengan perkebunan, pertambangan serta tentunya berbagai kelompok etnik dan keterikatan mereka pada hutan dan tanahnya. Pusat Kajian Antropologi di wilayah ini bisa ditemukan di beberapa propinsi, seperti Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat.

Wilayah 2

Wilayah II mencakup keseluruhan bagian pulau Kalimantan di bawah NKRI serta keseluruhan Sulawesi beserta pulau-pulau yang ada di sekitar kedua pulau besar tersebut. Di wilayah ini, fokus perhatian AAI terutama berkaitan dengan budaya maritim. Pusat Kajian di wilayah ini bisa ditemukan di Sulawesi Utara, Suawesi Tengah, Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Selatan.

Wilayah 3

Wilayah III mencakup kepulauan Maluku Utara, Maluku, Papua Barat dan Papua beserta pulau-pulau kecil disekitarnya. Kajian Antropologi pada wilayah ini berfokus pada kelompok etnik yang tersebar di seluruh wilayah. Pusat kajian di wilayah ini bisa ditemukan di Maluku Utara, Papua Barat dan Papua.

Wilayah 4

Wilayah IV mencakup pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur beserta pulau-pulau kecil disekitarnya. Fokus perhatian AAI di wilayah ini adalah pada Budaya Pemerintahan yang mencakup pada pembuatan kebijakan beserta implementasinya dalam budaya yang sedang berkembang. Di wilayah ini pusat kajian Antropologi terdapat di Jawa Barat, Jawa Tengah, DKI Jakarta, Yogyakarta, Jawa Timur dan Bali.

Struktur Organisasi 

Dewan Penasehat

P.M Laksono
Heddy Shri Ahimsa Putra
Maria Heni Pratiknjo
Enos H. Rumansara
Supriadi Hamdat

Dewan Penasehat

P.M Laksono
Heddy Shri Ahimsa Putra
Maria Heni Pratiknjo
Enos H. Rumansara
Supriadi Hamdat

Dewan Etika

S. Budhisantoso
Meutia Hatta Swasono
Yunita T. Winarto
Kartini Sjahrir
Selly Riawanti

Dewan Etika

S. Budhisantoso
Meutia Hatta Swasono
Yunita T. Winarto
Kartini Sjahrir
Selly Riawanti

Pengurus Pusat

Ketua Umum Idham B. Setiadi
Sekretaris Jendral  Dian Rosdiana
Bendahara Arena Dharmawaty
Sekretariat Raymod Michael Menot
Sekretariat Sri Paramita Budi Utami
Sekretariat Yulina Achrini
Ketua Bidang Profesionalisme Haswinar Arifin
Ketua Bidang  Advokasi Kebijakan Semiarto Aji  Purwanto
Ketua Bidang  Pemberdayaan Bambang Hudayana
Ketua Bidang Organisasi Sofyan Ansori 
Ketua Wilayah Barat  (Sumatera) Zulkifli Lubis
Ketua Wilayah  Tengah (Kalimantan dan Sulawesi) Pawennari Hijjang 
Ketua Wilayah  Timur (Maluku dan Irian Jaya) Hanro Y. Lekitoo
Ketua Wilayah Selatan (Jawa, Bali, Nusa Tenggara) Pingky Saptandari Wisjnubrata