Pemberdayaan

Pendekatan Pemberdayaan masyarakat, peningkatan kemampuan dan pembangunan secara partisipatif tidak lagi merupakan pendekatan yang baru, baik bagi antropologi maupun bagi Indonesia. Yang baru adalah adanya arahan dari Presiden Joko Widodo untuk membangun dari daerah perbatasan yang miskin. Hal ini berarti meletakkan prioritas ke daerah dan pulau-pulau terluar serta masyarakat yang paling kurang diperhatikan selama ini. Hal ini juga berarti memulai perencanaan pembangunan dengan budaya.

Meskipun demikian, hasil riset menunjukkan bahwa pembangunan budaya tidak serta merta memberdayakan masyarakat yang paling miskin. Kenyataannya sering terjadi bahwa pembangunan budaya menghasilkan struktur sosial yang tidak adil.

Hal berbeda yang dilakukan oleh Divisi Pemberdayaan AAI  adalah bekerja secara berkesinambungan pada dua bagian untuk meningkatkan kemampuan baik anggota masyarakat maupun pekerja sosial masyarakat. Kami bekerja sama erat dengan beragam pemimpin masyarakat, termasuk juga komponen masyarakat, pemerintah setempat, pemimpin LSM, institusi akademis, pemimpin perusahaan, dan pemimpin nasional. Dengan mereka yang memiliki dasar untuk mengembangkan orang-orang yang terpinggirkan inilah kami bekerja sama.

Kami memiliki lima program yang akan dijalankan, yaitu:

Seminar

Mendiskusikan tentang kemiskinan, kerentanan sosial yang berkembang pada era reformasi, desentralisasi, dan dan globalisasi

Kemitraan

Melakukan kerjasama dengan pemda, perguruan tinggi di daerah dalam pengembangan SDM  AAI dan program aksi pemberdayaan  masyarakat di daerah

Pedesaan

Mengembangkan desa dampingan  sebagai  arena pegembangan metodologi dan jejering  sosial dalam mempromosikan  program-poram pemberdayaan di berbagai daerah.

Responsivitas

Meningkatkan kesadaran anggota AAI  dan komunitas akademis terhadap agenda pemberdayaan masyarakat sipil, kohesi sosial dan pluralisme.

Partisipasi

Berpartisipasi dalam berbagai forum pemberdayaan masyrakat  yang diselenggarakan oleh berbagai  stakeholder di daerah